Kisah Silicon Valley #34 – Jawara Bidang Telekomunikasi

  • Whatsapp

Hingga tahun 2005, Skype beroperasi dengan santai. Jaringan orang-orang yang dalam banyak hal bebas datang dan pergi sesukanya, bekerja di sana sebagai konsultan dan berhubungan dengan aneka macam hal yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya. Jika seseorang mempunyai wangsit, maka sahabat-temannya siap sekuat tenaga mewujudkannya melalui acara. Sungguh santai namun saling mendukung. Makara dalam banyak kejadian, acap kali ketiga pagi hari seseorang datang ke kantor dengan suatu inspirasi ihwal fitur gres, maka malamnya, fitur itu telah jadi, dan sudah digunakan oleh kurang lebih 10 ribu orang pengguna!

Saat menyusun daftar harga untuk fitur Skype Out (menelepon dengan Skype), mereka gak repot-repot melaksanakan penelitian pasar dan cuma menyusunnya satu malam, menggunakan Excel!

Setiap minggu ada lima sampai sepuluh karyawan update bergabung dengan perusahaan. Prosedur penyaringan sangat sederhana. Lulus tes? Kamu diterima! Dalam perundingan gaji, Skype agak pelit. Dimulai dengan honor persyaratan yang rendah, Skype berupaya meyakinkan kandidat karyawannya bahwa mereka akan menerima upah lebih baik jikalau kontribusinya terlihat.

Eileen Burbidge, seorang karyawan Yahoo, merasa kagum pada budaya ‘kerja santai tapi konsentrasi’ ala Skype. Dia mengundurkan diri berasal Yahoo, lalu melamar pada Skype. Bahkan Burbidge saat diwawancara menyatakan bersedia dibayar berapa saja asal mampu bergabung. Lucunya, alasannya kesalahan manajemen, Burbidge gres mendapatkan gajinya sesudah 8 bulan (Setelah itu gres berkala tiap bulan). Meskipun telat, jumlahnya berlebih alasannya adalah administrasi Skype merasa bersalah atas kesalahan tersebut. Burbidge sendiri bukan menghiraukan sebab dia benar-benar senang bekerja on Skype. Dia menyebutnya “dikala-ketika terindah dalam hidup”.

“Di hari pertama berguru, aku gres saja menuntaskan kontrak dan kriteria dengan Niklas,” dongeng Burbidge. “Tidak ada seorang pun berasal kami yang khawatir dan membicarakan problem uang pada ketika itu. Kami berdua sama-sama bukan sabar untuk memulai dan bekerja. Salah aku sendiri tidak mengeluhkan ‘kesalahan manajemen’ ini selama berbulan-bulan”

Seperti halnya Jurvetson, Burbidge menyatakan bahwa tim Estonia ini melakukan pekerjaan ‘secepat kilat’. “Baru saja keluar dari Silicon Valley selama 11 tahun, aku sangat terkesan dan takjub oleh para pemimpin teknis yang tampaknya bukan mempunyai ego sama sekali, gak acuh bisa gelar, gak menghiraukan akan tugas atau main perintah, semuanya aneh-gilaan dalam akad untuk menyaksikan ‘proyek diatasi’ sehingga perusahaan sukses,” dongeng Burbidge. “Mereka memiliki rasa tanggung jawab dan disiplin yang belum pernah aku saksikan sebelumnya.”

“Contoh sederhana budaya Skype yang cepat ini, saya biasa menggunakan ‘budpekerti Amerika’, sehingga tiap kali ingin bertanya, saya siap lebih dulu mengucapkan ‘apa kabar’, disertai ‘bisa saya bertanya’ – Tapi Toivo gak menyukai tata krama ribet semacam ini dan mengatakan terhadap aku: ‘Langsung tanya saja’” Burbidge terkekeh mengingat pengalamannya bekerja pada Skype.

 

eBay Menawar Skype

Skype tumbuh dengan segera. Pada trend panas 2005, Jaan Tallinn berada untuk London sedang menghadiri permintaan dari eBay. Toko internet ini juga sedang berkembang pesat pada tahun tersebut. Tallinn dikala itu dikelilingi oleh para administrator dan pemegang saham utama eBay, dan salah seorang berasal mereka secara bercanda berkata, “Hey Jaan, apakah kamu siap memasarkan Skype?” Tallinn menjawab, “Ya, dan aku akan menenteng kopor besar semoga menjinjing banyak uang pulang.”

Tak disangka obrolan itu berganti serius.

Berita bahwa Skype dijual ke eBay meledak pada bulan September 2005. Masih berbentukrumor, namun dikatakan bahwa Skype akan dibeli senilai USD 2,6 miliar. Masing-masing programmer awal Skype menerima USD 42 juta sementara Friis dan Zennstrom mendapatkan sepuluh kali lipatnya. Begitulah kabar yang beredar.

Ross Mayfield, seorang penasihat keuangan bagi Presiden Estonia, mendatangi kantor Tallinn setelah mendengar kabar tersebut, dan terkejut dikala melihat para karyawan melakukan pekerjaan mirip biasa. Tidak ada perayaan berlebihan. “Di Silicon Valley, semua orang akan merayakan ‘rencana pemasaran’ dan menjumlah duit yang mereka peroleh. Tapi tim inti Skype ini tetap melakukan pekerjaan dengan sarat konsentrasi dan tetap setia dengan maksudnya.”

Jurvetson, penanam modal perusahaan tidak menyepakati pemasaran dan mengatakan bahwa seharusnya Skype bertumbuh dulu agar nilainya terus meningkat. Jaan Tallinn berusaha menenangkan investor besar Skype tersebut, “Kami terus mendapatkan proposal kok. Bahkan setiap usulan baru lebih besar dari sebelumnya.” Ada panik bahwa Skype mungkin bisa kesusahan menahan rencana pembelian tersebut alasannya adalah MSN dan Yahoo sudah mulai menancapkan kukunya. Di tahun yang serupa, Google meluncurkan Google Talk untuk menyaingi Skype. Ini merupakan tantangan besar karena telepon yakni satu-satunya sumber pemasukan Skype.

“Kami tahu risiko kian besar. Jika kami ‘tersalip’ oleh layanan lain yang mempunyai fungsi sama, nilai kami bisa jatuh. Sedangkan saat ini penawaran yang masuk benar-benar menggiurkan. Dan kami melihat untuk pertama kalinya, pertumbuhan pengguna kami mulai menyusut alasannya tekanan pesaing. Ini cukup menyeramkan” Ujar Zennstrom dalam suatu wawancara. “Tahun ini, kami melihat Yahoo, AOL, Microsoft, dan Google, masuk ke pasar kami. Sangat mustahil bagi kami untuk terus menerus menjadi yang paling besar. Ada potensi kami akan dihancurkan oleh salah satu dari mereka.

 

Microsoft Melangkah Masuk

eBay mungkin salah satu raksasa teknologi yang paling serius menghendaki Skype. Namun mereka tak berdaya ketika Redmond dengan kekuatan raksasanya pribadi masuk dan membeli Skype sebesar USD 8,5 miliar! Tidak ada perusahaan lain pada tampang bumi yang pada ketika itu bersedia membayar dalam jumlah tersebut untuk Skype. Zennstrom dan Friis menyerah. Mereka melepas Skype dengan suatu perjanjian yang rumit, tergolong pilihan kepemilikan yang menciptakan mereka tetap memiliki kontrol atas Skype.

Nyaris semua orang meramalkan bahwa Skype bisa ‘membusuk’ on tangan Microsoft. Jurvetson sangat marah saat Tallinn meneleponnya tentang deal dengan Microsoft. Dia bukan mempermasalahkan jumlah duit (alasannya adalah pastinya ia mendapatkan bab yang besar juga), melainkan reputasi Microsoft yang sering ‘merusak’ startup yang mereka beli sendiri. “Saya bukan akan terkejut kalau Microsoft mengacaukan Skype. Mereka mengacaukan hampir apa saja!” Ujar Jurvetson bersungut-sungut. “Dimiliki oleh sebuah perusahaan besar juga negatif bagi Skype. Multinasional raksasa, mirip eBay atau Microsoft, perlu mengakomodasi mitra bisnis dan pemerintah untuk seluruh dunia. Ini siap menghalangi Skype tumbuh secara bergairah alasannya siap mengancam pemerintah atau bisnis di banyak kepingan bumi. Misalnya, Skype bisa ditekan oleh operator setempat sebab pemasukan mereka terancam oleh kehadiran Skype!”

Bertahun-tahun berlalu sejak pembelian tersebut, dan untunglah gak seperti ramalan banyak orang, Skype gak membusuk. Aplikasi ini masih menjadi cerita integral dalam mesin Windows, bahkan banyak OS lain. Hanya saja, pengguna sering dibikin kesal oleh sistem trial and error yang dijalankan Microsoft dalam menyebarkan Skype. Visi Skype yang hebat dalam hal ‘telepon gratis’ mengilhami banyak startup untuk bertandingdi bidang yang sama. Facebook, Whatsapp, Messenger, BlackBerry, LINE, yakni sedikit di antaranya. Kekuasaan Skype memang gak dominan mirip dahulu, siap tetapi masih tetap berpengaruh pada golongan Enterprise, yang mana Skype hampir tak tergoyahkan sebagai ‘pemain utama’ untuk software telepon internet, video call, teleconference, dan bahkan berbagi desktop yang mudah dan mulus. Mereka tetap jawara untuk bidang telekomunikasi, cuma saja fungsinya bergeser. Jika dulu Skype yakni penghubung antar keluarga yang terpisah oleh jarak dan waktu, kini Skype lebih banyak digunakan untuk dunia bisnis, utamanya dalam kordinasi antar karyawan dan rekanan bisnis.

Zennstrom, penggerak permulaan Skype bahkan optimis pada pertumbuhan acara yang terkenal pada seluruh dunia ini, “Fakta bahwa mereka (Microsoft) menutup MSN Messenger, menyiratkan bahwa mereka berkomitmen terhadap Skype, yang mana ialah salah satu merek terkuat di portofolio mereka.”

 

 

Referensi

Aman. (2011). Skype – The Success Story! [Infographic]. Technolism

Angelov, Bojan. Skype: Leading the VOIP Revolution. Case Study. Polytechnic University.

Jacob, Jijo. (2011). The rise and growth of Skype: A Baltic success saga. ibtimes.

Manzoor, Sarfraz. (2010). Why Skype has conquered the world. The Guardian.

Tanavsuu, Toivo. (2013). How can they be so good”: Strange story of Skype. Arstechnica.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *