Dongeng Silicon Valley #50 – Nokia Yang Terbeli

  • Whatsapp

Hasil finansial yang gak begitu manis ini bukan menghambat ambisi Elop untuk melanjutkan jalur yang dipilihnya. Pada tanggal 25 Februari 2013, on acara Mobile World Congress Barcelona, Nokia kembali memperkenalkan Lumia update ialah Lumia 520. Ini menjadi ponsel paling murah yang pernah dirilis Nokia. Meskipun demikian, kecanggihan manufaktur from Tiongkok menyebabkan ponsel murah ini ‘bukan ada apa-apanya’ jikalau dibandingkan oleh smartphone Android buatan Tiongkok yang harganya mampu separuh Lumia 520. Meskipun demikian, mutu bukan berdusta. Lumia 520 menjadi ponsel Windows Phone Nokia yang paling laris sepanjang sejarah ketika itu. Penjualannya luar biasa karena memberikan pengalaman pengguna dan build quality yang jauh lebih baik dibandingkan ponsel on kisaran harga serupa.

Sirkus Nokia berlanjut. Pada 11 Juli 2013, jurnalis dan blogger dipanggil oleh Nokia ke New York. Informasi penyajian Nokia telah bocor on internet, Nokia akan memperkenalkan suatu ponsel berfokus kamera. Adalah Joe Belfiore yang dikala itu menjabat sebagai Windows Phone manager, memamerkan foto-foto kegiatan memancingnya di Flickr. Pada data Exif yang terbaca untuk akun Flickr tersebut, tampak bahwa perangkat tersebut memiliki resolusi 2947 x 1658 dengan arahan Nokia Lumia 1020.

Ini sebetulnya bukan mainan gres. Sebelumnya Nokia mempunyai kamera ber-OS Symbian dengan resolusi yang sangat dahsyat, 41 megapiksel, ialah Nokia 808. Engineer Microsoft kesudahannya mampu mengintegrasikan monster kamera PureView milik Symbian ke Windows Phone. Lumia 1020 memiliki kamera 41 megapiksel, juga Optical Image Stabilization dan optik wide angle from Zeiss. Elop menyombongkan bahwa Nokia telah ‘melahirkan kembali’ zoom kamera.

Saat itu, Apple dan manufaktur Android secara lazim belum berkonsentrasi pada kamera. Persepsi yang ada pada tahun itu yaitu kamera ialah fitur pelengkap belaka bagi ponsel. Kamera digital sudah ada dan dijual terpisah. Tentu saja orang akan lebih memilih sebuah kamera digital dibandingkan ponsel dengan kamera yang anggun. Ternyata mereka semua salah! Ceruk ini dengan sukses diokupasi oleh Nokia. Nyaris sepanjang tahun Nokia menikmati citra selaku satu-satunya pabrikan ponsel dengan kamera superior. Bukan saja Lumia 1020 yang dianggap sebagai ‘kesempurnaan dalam fotografi ponsel’, ponsel low end Nokia juga menikmati status sebagai ‘pemilik kamera terbaik’.

Di luar citra tersebut, sayangnya media kurang bersahabat dengan Nokia. Sepanjang tahun media mengeluarkan analisis ihwal kesempatanLumia 1020 yang merupakan ‘macan dalam kandang’ – Tidak bermanfaat dalam tren dunia ketika itu. Siapa yang perlu kamera 41 megapiksel kecuali ingin mencetak poster berskala besar? Apalagi Instagram yang mulai naik daun saat itu ‘merusak’ kesempurnaan gambar yang diambil oleh Lumia 1020. Kompresi gambar menyebabkan mutu kamera gak dapat dipamerkan secara optimal, terlebih dikala itu Windows Phone bukan memiliki aplikasi Instagram. Apalagi Lumia 1020 dikala itu dibandrol cukup mahal. Jurnalis Marguerite Reardon from CNET menyatakan, “Meskipun kualitas kamera lebih superior from perangkat lain, dalam kasus Lumia 1020, kita perlu mengamati juga bahwa harganya USD 100 lebih mahal dibandingkan perangkat high end lainnya.”

Nokia menikmati sedikit peningkatan pada tahun tersebut. Pada tanggal 18 Juli 2013, Nokia mempublikasikan laporan internalnya. Elop menyatakan bahwa Lumia 520 sendiri saja telah meraih pemasaran 7,4 juta, nyaris dua kali lipat pemasaran ponsel Lumia on kala sebelumnya. Elop mengungkapkan bahwa ini menunjukkan perkembangan faktual bagi Windows Phone. Elop menutupi satu hal penting: pertumbuhan penjualan ini berbanding terbalik dengan kerugian divisi ponsel pintar yang dahsyat. Unit ponsel pintar mengalami kerugian tahunan sebesar USD 42 juta! Ini ialah akibat pemeliharaan smartphone usang, support OS, dan juga menumpuknya perangkat yang bukan terjual on agen.

 

Menengok Kembali Feature Phone Nokia

Sebenarnya, meskipun banyak unit smartphone Nokia yang tidak terjual, mampu dibilang bahwa Nokia masih menjadi raja untuk segmen feature phone. Segmen ini terus tergerus oleh kedatangan ponsel pintar, tetapi di sini Nokia tetap memegang tampuk pimpinan. Mary McDowell yaitu pemain utama yang bertanggung jawab atas hal ini. Sejak 14 September 2010, dikala Elop resmi ditunjuk sebagai CEO update Nokia, McDowell telah mengeluh meminta perhatian lebih atas feature phone. Segmen ini tetap stabil walaupun smartphone terus menurun. Dia menganjurkan sesuatu yang agak menentang arus ketika itu: persenjatai ponsel dengan internet, tergolong feature phone. “Nokia sungguh bangga atas prestasi mereka memelopori datangnya internet on perangkat seluler. Ini dapat dimanfaatkan oleh orang pada seluruh dunia. Jika internet pada perangkat feature phone mampu setara dengan ponsel pintar, maka ini bisa dapat mengembangkan penjualannya.

Pasar paling signifikan untuk feature phone Nokia yaitu India. Nokia melakukan kesalahan sebab terlambat mendatangkan ponsel dual SIM ke pasar. Menurut Ramashish Ray yang bertanggung jawab atas penjualan ritel pada India, Nokia telat dua tahun dalam hal ini: “Reaksi lambat ke kenyataan pasar, birokrasi kepemimpinan, dan difusi pengambilan keputusan ke terlampau banyak forum ialah kesalahan Nokia dalam keterlambatan ponsel dual-SIM.”

Pada tahun 2010, landasan bisnis Nokia terdiri atas perangkat yang memiliki harga cuma beberapa puluh euro (sekitar 500-700 ribu rupiah) yang membuat lebih mudah seseorang untuk menghubungi, berkirim SMS, dan memakai layanan web sederhana. Berkat produksinya yang efisien, feature phone membuat margin laba yang lebih besar dibandingkan smartphone. Efisiensi ini ialah didasarkan Operating system S40  yang diperkenalkan pada tahun 1999. Nokia menaklukkan dunia dengan S40 ini. dalam rentang waktu 1999 sampai 2012, Nokia telah berhasil memasarkan 1,5 miliar perangkat S40 untuk seluruh dunia.

Meskipun penjualan feature phone terus menerus mengalami kemunduran, Nokia bukan mengalah begitu saja di segmen ini. Pada tanggal 26 Oktober 2011, ponsel seri Asha diperkenalkan terhadap audiens acara Nokia World. Asha yaitu bahasa Sanskrit untuk ‘impian’ (mungkin pada Indonesia ente familiar dengan ‘asa’). Ponsel ini diluncurkan untuk menyanggupi cita-cita McDowell: sebuah feature phone dengan konsentrasi koneksi terhadap internet yang lebih baik. Asha dilengkapi semua hal yang bakal dicintai pelanggan on pasar negara berkembang. Kamera 5 megapiksel, touchscreen, keyboard QWERTY, dual-SIM, pemutar musik, dan baterai yang bisa bertahan 52 jam dalam pemakaian intensif! Asha juga difokuskan pada gaya dan reliabilitas yang pasti siap mempesona bagi India atau Tiongkok. Nokia juga menjalin kemitraan dengan Rovio, developer Angry Bird yang sedang booming di tahun tersebut, untuk menghadirkan Angry Bird di Nokia Asha. Ini menambahkan kekuatan dalam lini ponsel tersebut.

Sayangnya, impian ini gak terwujud. Asha bukan menerima traksi yang manis. Pangsa pasar Nokia terus menerus turun untuk negara meningkat , sebagian besar ditelan oleh Android yang makin agresif merebut pasar ponsel pintar.

Pada bulan Agustus 2013, situs isu teknologi TechCrunch menulis bahwa pangsa pasar Nokia dalam Windows Phone telah berkembangmenjadi 87%. Samsung dan HTC telah meninggalkan pasar tersebut. Windows Phone sudah bukan menarik lagi bagi mereka. TechCrunch mengungkapkan prediksi bahwa para pembuat Windows Phone lainnya bisa segera meninggalkan pasar.

Situasi monopoli ini sesungguhnya bukan tujuan Nokia. Sejak mengumumkan seni manajemen Windows Phone, Elop telah menekankan bahwa Nokia memang ingin mengiklankan keseluruhan ekosistem, namun bukannya pemain tunggal. Hilangnya manufaktur lain from ekosistem ini menyebabkan posisi mereka terasa asing. Di sini TechCrunch mengungkapkan analisis yang menyeramkan, namun masuk logika: Posisi monopoli Nokia justru membahayakan bagi perusahaan itu. Dengan suasana keuangan yang terus merugi, Nokia terancam ditelan oleh vendor pemilik Windows Phone yang memiliki keuangan lebih mapan: Microsoft!

 

Nubuat Dunia Teknologi yang Terwujud

Tech Crunch memang menganalisis bahwa posisi Nokia tersebut membahayakan, namun gak ada yang mengira bahwa ‘ancaman’ tersebut terjadi lebih singkat berasal prasangka siapa saja. Tidak hingga sebulan setelah prediksi TechCrunch tersebut, tepatnya 2 September 2013, Microsoft mengumumkan bahwa mereka siap berbelanja divisi perangkat dan layanan Nokia!

Microsoft bisa membayar sebesar USD 5 miliar untuk bisnis perangkat Nokia, ditambah USD 2,2 miliar untuk hak banyak sekali paten milik Nokia. Dengan duit sebesar itu, yang didapatkan oleh Microsoft on atas kertas adalah:

  • Bisnis ponsel pintar dan ponsel Nokia, tergolong manufaktur dan perakitan
  • Personel Nokia, tergolong tim desain, tim pemasaran/operasi, dan tim milik Stephen Elop
  • Sejumlah paten yang daftarnya ditambahkan dalam perjanjian
  • Lisensi untuk teknologi HERE maps milik Nokia (namun bukan HERE sebagai perusahaan)
  • Landasan pesawat untuk mendarat pada Finlandia

Berikut press release lengkap untuk akuisisi yang tercatat dalam sejarah tersebut:

Microsoft Corporation dan Nokia Corporation hari ini memberitahukan bahwa Dewan Direksi kedua perusahaan sudah menetapkan untuk masuk ke dalam transaksi yang mana Microsoft akan berbelanja secara substansial semua bisnis Perangkat & Layanan Nokia, lisensi paten Nokia, dan memakai layanan peta milik Nokia.

Dalam klausul perjanjian, Microsoft akan mengeluarkan uang sebesar EUR 3.79 miliar untuk berbelanja bisnis Perangkat & Layanan Nokia, dan EUR 1,65 miliar bagi lisensi paten Nokia, dengan harga transaksi total sebesar EUR 5,44 miliar secara tunai. Microsoft akan menawan sumber dana finansialnya on seluruh dunia untuk mendanai transaksi tersebut. Transaksi tersebut diperlukan akan mencapai tahap penutupan pada kuartal pertama 2014, sesuai dengan kesepakatan pemegang saham Nokia, persetujuan undang-undang, dan syarat-syarat penutupan transaksi yang lain.

Setelah mengawali kemitraan dengan Nokia pada Februari 2011 dan meningkatnya kesuksesan ponsel pintar Nokia Lumia, Microsoft bertujuan untuk mengembangkan perkembangan pangsa pasar dan profit dalam perangkat seluler lewat inovasi yang lebih cepat, meningkatnya sinergi, dan menyatunya merek dan penjualan. Bagi Nokia, transaksi ini diperlukan untuk secara signifikan memajukan pendapatan, memperkuat posisi finansialnya, dan menawarkan landasan yang solid untuk investasi pada periode mendatang dalam usahanya yang berkesinambungan.

Meskipun dunia teknologi gempar oleh akuisisi tersebut, tidak ada yang sungguh-sungguh terkejut. Microsoft memang memiliki ‘hobi’ untuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan yang berpotensi. Jika mengikuti kisah ini semenjak awal, bahkan banyak yang memperkirakan hal ini sejak permulaan masuknya Stephen Elop ke raksasa Finlandia tersebut sebagai CEO.

“Ini adalah sebuah langkah besar menuju kurun depan – sebuah penyelesaian win-win untuk karyawan, pemegang saham, dan konsumen kedua perusahaan. Menghadirkan tim andal ini bisa mempercepat pangsa pasar dan profit Microsoft dalam ponsel dan memperkuat kesempatan menyeluruh baik untuk Microsoft dan mitra kami pada seluruh lini bikinan perangkat,” Pidato Steve Ballmer dalam acara tersebut. “Selain inovasi dan kekuatan mereka dalam ponsel on seluruh rentang harga, Nokia telah memperlihatkan kapabilitas dan talenta on area-area penting mirip rancangan perangkat keras dan engineering, rantai pasokan, dan manajemen manufaktur, serta penjualan hardware, penjualan dan distribusi.”

“Bagi Nokia, ini merupakan momen ‘penciptaan ulang’ yang penting dari posisi kekuatan finansial, sekarang kami mampu membangun babak selanjutnya,” ujar Risto Siilasma, Chairman dewan direksi Nokia yang sejak kesepakatantersebut efektif berlaku, menjadi CEO Interim Nokia. Loh, lalu apa yang terjadi dengan Elop?

Pria Kanada tersebut sesudah akuisisi menerima posisi selaku salah seorang anggota dewan direksi Microsoft, lengkap dengan kompensasi saham dan gugusan profit yang nantinya bisa menimbulkan sengketa tersendiri on dalam Nokia. Elop berpidato dengan sumringah. “Setelah membangun kemitraan yang berhasil, sekarang kami dapat mendatangkan software engineering terbaik Microsoft dengan desain juara dan manufaktur produk terbaik Nokia, juga penjualan global, marketing, dan distribusinya.”


Divisi Ponsel dan Manufaktur Nokia telah jatuh ke tangan Microsoft. Ini memang belum final semuanya. Bagaimana selesai petualangan Windows Phone sehabis Nokia menjadi bagian Microsoft?

Psst.. Saya belum menentukan apakah lanjut membahas topik ini minggu depan atau menyelipkan dongeng lain supaya pembaca tidak bosan. Sabar yah.

 

 

 

Referensi:

Kovach, Steve. (2013). Microsoft Buying Nokia’s Smartphone Business for $7 Billion, Business Insider

Nykanen, Pekka & Salminen, Merina. (2015). Operatioo Elop. Nokian matkapuhelinten viimeiset vuodet.  

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *